nb6u80-crop
Author: starralova ( @tvilluajeng )
Main Cast: Cho Kyuhyun Super Junior & Choi Sooyoung SNSD
Other Cast: Lee Donghae, Jessica Jung, Choi Siwon, Tiffany Hwang & member Super Junior-SNSD
Rating: PG-15
Genre: Romance, Sad, Family and a little comedy
anyyeong… aku balik lagi nih😀
cepet kan??? ekekeke… iya dong ..soalnya mumpung sinyalnya bagus  nih ,wkwkw
gak terasa ya udah di part 8 ini fanfic :”)
suatu kebanggaan tersendiri buat aku bisa nulis serius kayak gini, hehehe…
aku mau kasih pemberitahuan juga nih.. kalo fanfic ini udah hampir sampai di endingnya😀
aku ucapin makasih buat semuanya yang setia buat baca dan komen ff aku yang ini :”D
tapi gak perlu yah… setelah Forever selesai bakal ada fanfic yang baru😀
dan jelasnya main castnya itu KyuYoung😄 ,ekeke…
 oke deh.. HAPPY READING!!!! semoga kalian semua terhibur..😀
*** *** *** *** ***

‘Hariku jadi terasa berwarna saat kau mulai mengisinya. Sebegitu besarnya kah kekuatan cintaku untukmu? Sampai saat kau menghilang, hariku yang berwarna kini kembali gelap dan tak berwarna’

Author POV

Pagi ini kantor pusat Hwang Corp memang sangat sibuk, penandatanganan kotrak kerjasama dengan HyundaiChoi’s Group menjadi sebabnya. Tidak bisa dianggap remeh karena kotrak kerjasama ini mengenai pembukaan resort dan hotel di Jeju dan lagi HyundaiChoi’s Group yang menjadi investor utamanya.

“Jangan diletakkan disitu! Pot itu, keluarkan dari ruangan ini! Pak Kim tolong panggil office boy, bagian ini masih kotor! Kursinya tolong letakkan disebalah kanan sebelah sana, ajjhusi!” seorang yeoja dengan sibuk mengarahkan karyawan dan office boy menata tempat penandatangan kotrak pagi ini.

“Miyoung-ah!” sebuah suara berat mengintrupsinya untuk berhenti. Berjalan mendekat kearah pria berumur yang memanggilnya.

“Waeyo, appa?” kata yeoja tadi.

“Sudah lah. Kau tidak perlu mengurusi hal itu, kajja ikut ke ruangan appa” kata pria tadi yang ternyata adalah appa yeoja tadi, Hwang Junghyun presiden direktur Hwang Corp.

“Ah, appa tau sendiri kan, aku tidak pernah bisa puas kalau bukan aku sendiri yang melakukannya. Ada apa memanggilku?” kata yeoja tadi dengan ekspresi manjanya, berbeda dengan yang dia tunjukkan tadi. Hwang Junghyun hanya tersenyum melihat kelakuan manja putri sulungnya ini.

“Aish, kau ini tetap saja. Kenapa tidak pernah menunjukkan muka manjamu itu pada namja-namja diluar sana, eoh? Yang kau tunjukkan itu hanya wajah serius dan judesmu saja, Miyoungie” kata sang appa yang hanya dibalas senyum tanpa dosa dari sang putri yang memiliki nama Inggris Stephany Hwang ini, matanya yang ikut tersenyum saat ia tersenyum membuatnya terlihat sangat manis dan cantik, yang selalu mengingatkan Hwang Junghyun pada mendiang istri tercintanya.

“Appa~” rajuk sang putri sambil bergelayut manja di lengan sang appa. Hwang Junghyun hanya tergelak lalu mengusap sayang rambut sang putri.

“Aku dengar beberapa hari yang lalu Choi Siwon mendatangimu, waeyo?” kata sang appa. Tiffany kembali menginggat pertemuannya beberapa hari yang lalu dengan Choi Siwon, putra sulung dari pemilik HyundaiChoi’s Group. Seorang namja yang akan menjadi calon suaminya tapi sebelum semua itu terjadi dia sudah lebih dulu menolaknya.

“Bukan apa-apa, hanya bertegur sapa saja. Membicarakan masalah proyek bersama kita, appa” jawab Tiffany dengan sedikit ragu-ragu. Sang appa hanya mengangguk paham, walaupun dia tau putrinya ini sedang berbohong.

“Appa, aku harus kembali ke ruang kerjaku. Berkas-berkas untuk kerjasama ini masih ada dimejaku. Annyeong”  Hwang Junghyun hanya tersenyum melihat tingkah sang putri yang terkesan menghindar dari topik pembicaraannya kali ini, Choi Siwon.

***

Kembali ke ruang kerja nyatanya malah membuat Tiffany menginggat lagi pertemuannya dengan namja itu, Choi Siwon. Namja yang dua hari ini terus hadir di pikirannya.

flashback

“Kau tidak sopan sekali, nona Hwang. Jujur, aku merasa tersinggung kau menolak dijodohkan denganku bahkan kita belum saling bertemu. Kau belum tau pendapatku tentang perjodohan ini, bukan?” kata Siwon dengan iris mata yang menatap Tiffany.

Tiffany tergelak, dia memang dengan tegas menolak perjodohannya dengan Choi Siwon. Mungkin orang akan beranggapan dia bodoh menolak namja keren seperti Choi Siwon dengan segala kesempuranaannya, tapi Tiffany tidak melihat itu semua. Baginya namja yang akan menjadi suaminya kelak adalah namja yang bisa membuat hatinya berdesir saat menatap matanya dan memberi cinta tulus hanya untuk dirinya, bukan namja yang sempura dengan tittle keluarga terpandang dibelakang namanya saja.

“Jadi, kau tertarik padaku, tuan Choi? Sampai kau merasa tersinggung dengan penolakanku?”

Kini Siwon yang tersenyum geli mendengar penuturan yeoja didepannya ini, memang benar dia tertarik dengan yeoja pemilik eyes smile didepannya ini. Bahkan saat tadi pertama kali ia melihatnya.

“Ne, aku memang tertarik padamu. Dan penolakanmu yang tidak mendasar itu membuatku kini berdiri disini untuk meminta penjelasan darimu, Hwang Miyoung” kata Siwon dengan penuh percaya diri, berbeda dengan yeoja didepannya yang kini menatap tak percaya padanya.

***

Sooyoung POV

Setelah kata-kataku tiga hari yang lalu untuk Kyuhyun, kenapa sekarang hatiku yang tidak tenang? Ada perasaan menyesal saat ini di hatiku. Bukankah memang harusnya aku menyerah sekarang? Kyuhyun tidak lagi mengharapkanku kembali padanya. Tapi kenapa ada rasa sesak saat mengingat aku akan menyerah padanya. Sungguh aku masih mencintainya seperti empat tahun yang lalu. Aku percaya semua perkataannya, aku percaya bahwa aku adalah takdirnya, aku percaya kita akan bersama lagi walau kita terpisah. Dan aku percaya kami akan terus saling mencintai sampai maut memisahkan.

“Waeyo? Kenapa kau melamun saja?” suara eomma yang lembut membuatku tersenyum, tangannya mengelus rambut panjangku. Saat ini aku sedang berada di balkon kamar, menatap hamparan luas halaman belakang rumah ini. Sejuk dan tenang.

Sekarang eomma duduk disampingku. Menatapku bertanya, aku membalasnya dengan senyum.

“Aku sudah menyerah padanya, eomma. Mungkin mengikuti keinginan appa bukanlah hal yang sulit” kulihat eomma tersenyum, kini tangannya kembali mengelus rambut panjangku.

“Jangan membuat keputusan saat dirimu emosi dan marah. Eomma bisa membantumu untuk mengulur-ulur waktu perjodohanmu, pikirkan lagi keputusanmu, Youngie. Jangan sampai kau menyesal saat dia tak bisa kau jangkau lagi”

“Bahkan sekarang aku tak bisa lagi menjangkaunya, eomma. Bukankah lebih baik aku menyerah sekarang?”

***

Author POV

Kyuhyun termenung di balkon rumahnya. Pertemuan terakhirnya dengan Sooyoung tiga hari yang lalu masih membekas dipikirannya. Semua ucapan yang Sooyoung ucapkan seperti rekaman suara yang tidak mau berhenti dipikirannya. Sooyoung masih begitu mendominasi seluruh pikiran Kyuhyun.
Kyuhyun mengusap wajahnya dengan lelah, kentara sekali banyak pikiran yang sekarang ini mengganggungnya.

Choi Sooyoung.

Nama itu kembali disuarakan oleh hatinya. Dan dengan hebatnya memporak-polandakan seluruh benteng yang Kyuhyun bangun selama empat tahun ini hanya dengan mengatakan kalau dia menyerah padanya.

“Aggggrrrh!!” geraman Kyuhyun memenuhi balkon di sore yang mendung ini.

“Tuan muda,” sebuah suara mengintrupsi Kyuhyun untuk menoleh ke sumber suara dan menemukan sekretaris pribadi ayahnya yang berdiri dengan senyum yang mengembang.

“Waeyo, ajjhusi?”

“Tuan Besar sudah sadar” kata-kata sekretaris masih dengan senyum lebarnya,

“Beliau ingin berbicara empat mata dengan anda” dengan segera Kyuhyun berjalan memasuki rumah dan berjalan menuju kamar ayahnya.

***

“Abeoji..” kata Kyuhyun begitu menginjakkan kaki dikamar sang ayah. Sang ayah yang masih terlihat lemah hanya mengangguk, memberinya kode untuk mendekat kearahnya.

“Abeoji, mianhamnida. Aku tidak berada disampingmu di saat kau seperti ini, mianhamnida, abeoji” sang ayah hanya mengelengkan kepalanya dengan lemah.

“Abeoji masih sangat lemah sekarang ini, dokter Kim akan datang sebentar lagi untuk memeriksa. Abeoji istirahatlah dulu” kata Kyuhyun sambil menggenggam tangan sang ayah.

Nuansa haru begitu kentara diruang ini. Kyuhyun masih dengan menggenggam tangan sang ayah dan air mata yang mengalir dipermukaan pipinya. Kerinduan keduanya yang hampir empat tahun tak bertemu membuat nuansa sedih, haru dan bahagia menyatu menjadi satu.

Tak lama dokter keluarga Cho, dokter Kim masuk ke ruangan dan dengan segera Kyuhyun minggir untuk membiarkan dokter itu memeriksa keadaan sang ayah yang baru saja bangun dari komanya hampir satu bulan ini.

***

Acara penandatanganan kerjasama proyek di pulau Jeju siang ini berjalan dengan sukses, wakil dari Hwang Corp dan HyundaiChoi’s Group saat ini sedang menikmati santap siang di aula khusus kantor pusat Hwang Corp. Seorang yeoja yang menjadi wakil Hwang Corp sedang mengobrol dengan salah seorang dewan direksi yang juga menjadi tamu undangan.

“Miyoung-ssi..” suara seorang namja membuat obrolan yeoja tadi berhenti dan menatap orang yang menyebut nama koreanya itu. Dan tatapan terkejutnya seketika muncul, segera mengendalikan diri dan sebuah senyum manis segera ia tampakkan pada namja yang ada dihadapannya sekarang ini. Dewan direksi yang sedang mengobrol dengannya hanya menepuk bahunya lalu berlalu meninggalkannya dengan senyum ramah.

“Annyeong, tuan Choi” sapa Tiffany dengan ramah. Namja yang berada didepannya itu juga ikut tersenyum menunjukkan lesung pipit manis dikedua pipinya.

“Jangan terlalu formal seperti itu, panggil saja aku Siwon. Jadi Miyoung-ssi, bisakah menemaniku berkeliling diluar aula ini? Kurasa tempat ini terasa sangat sesak dan panas” kata Siwon. Tiffany hanya tersenyum, lalu berjalan beriringan dengan Siwon melewati orang-orang untuk keluar dari aula serba guna itu.

Disergapi rasa canggung, keduanya hanya saling terdiam sampai kini langkah kaki mereka berhenti di balkon gedung masih dilantai yang sama, hanya suasananya yang sedikit sepi dari aula yang berisik dan pengap. Masih dengan segelas air ditangan kanannya, Siwon berjalan mendekati pagar pembatas yang langsung berhadapan dengan hiruk pikuk yang padat kota Seoul.

“Kata-kataku beberapa hari yang lalu, apa sudah kau pertimbangkan, Miyoung-ssi?” alis Tiffany saling bertaut. Sungguh gadis ini tidak menyangka ucapan Siwon kali ini, tak terprediksi.

Masih dengan memandang kota Seoul, Siwon menghela nafasnya.

“Mungkin kau masih tidak mengerti dengan ini semua, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk lebih mengenalmu, Miyoung-ssi” lanjut Siwon, kini posisinya sudah menghadap yeoja yang berdiri dibelakangnya tadi.

“Aku masih belum paham. Dan maaf, bukankah aku sudah menolakmu? Satu lagi, panggil aku Tiffany, aku kurang nyaman dengan panggilanmu itu” jawab Tiffany dengan sedikit kekesalan di ucapannya. Siwon tergelak, yeoja didepannya ini memang berbeda. Menolak Siwon dengan semua kesempurnaan yang mengikutinya, benar-benar berbeda.

***

Siang ini Donghae melewati makan siang dirumah dengan kekesalan. Bagaimana tidak, sang eomma bersikukuh memintanya untuk kembali kerumah dan meninggalkan apartement yang Donghae tinggali selama ini dengan Kyuhyun.

“Pokoknya eomma tidak akan pernah mengijinkanmu lagi untuk tinggal di apartement itu lagi, tinggallah disini, Hae-ah. Temani eomma disini” bujuk sang eomma.

“Eomma… Aku sudah terbiasa tinggal disana, disana lebih dekat dari kampusku. Aku akan sering terlambat kalau tinggal disini, disini sangat jauh dari kamp-”

“Tapi Jessica tidak pernah terlambat pergi ke kampus, Hae-ah. Lagipula kau bisa berangkat bersamanya bukan. Hey, eommamu ini tau kau sudah menyukainya sejak dulu, mengakulah bocah nakal!” dengan cepat eomma

Donghae memotong perkataan Donghae dan kembali memojokkan Donghae dengan kenyataan yang memang sejak lama ia sembunyikan.

Menyukai tetangganya itu sejak kecil, seorang yeoja dingin tapi dengan hati yang hangat. Jessica Jung. Mencintai yeoja itu dengan diam-diam tanpa berniat untuk mengatakannya, dan berkelakuan menyebalkan dihadapan yeoja itu untuk membuatnya terus diperhatikan oleh yeoja itu, Jessica Jung.

“Eomma~, apa yang sebenarnya kau katakan? Aku? Mencintai Jessica Jung? Yeoja es itu? Aish, eomma.. kurasa kau sedang demam sekarang” sergah Donghae dengan cepat, mungkin sekarang dia terlihat salah tinggah dihadapan sang eomma.

“Eomma~” rajuk Donghae, agar eommanya itu berhenti memojokkannya sekarang. Dengan tatapan menyelidiknya, eommanya kini berdiri dari meja makan,

“Sebaiknya kau menginap hari ini, dan pikirkan lagi permintaan eomma kali ini, Hae-ah. Jebbal..”

Donghae hanya bisa menghela nafas panjang lalu mengangguk dengan malas. Seketika senyum cerah mengembang diwajah sang eomma.

***

Kyuhyun POV

Dokter Kim sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu dan aku masih duduk di ruang tamu. Penjelasan dokter Kim mengenai abeoji tadi sedikit membuat kekhawatiranku menghilang. Abeoji sudah sadar dan akan segera sembuh, miskipun perlu banyak terapi dan pengobatan untuk itu.

“Tuan muda-”

“Arraseo, ajjhussi. Aku akan menemui abeoji” potongku segera pergi dan berjalan ke kamar abeoji.

***

“Kyu-ah, kemarilah” kata abeoji dengan lemah terlihat sekali dia masih sangat kesakitan saat ini. Aku berjalan mendekat tak lupa memberi salam dan duduk di pinggir ranjangnya.

“Gwaenchana?” tanyaku dengan menggenggam tangan kanannya yang masih lemah, abeoji hanya mengangguk lemah dan tersenyum tipis menjawabnya.

“Aku akan kembali dirumah untuk merawat abeoji. Cukup sudah aku bersikap egois dan kekanak-kanakan. Aku akan mengurus perusahaan, abeoji tak perlu khawatir, arrachi?”

“Mianhae, Kyu-ah”

“Anniya. Abeoji tidak salah apapun. Seharusnya akulah yang meminta maaf, empat tahun ini aku menjadi anak yang durhaka padamu, abeoji. Mianhamnida, abeoji” jawabku. Sungguh aku merasa menyesal meninggalkannya dulu. Bahkan aku selalu menolak bila abeoji ingin bertemu denganku.

“Mianhae, Kyu-ah. Memang abeoji lah yang salah. Maafkan abeoji” kata abeoji dengan lemah, aku hanya menggeleng. Air mataku jatuh saat melihatnya seperti ini, mianhamnida abeoji.

***

Author POV

“Sica!!”

Yeoja berambut pirang yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke sumber suara, lalu dengan tampang tak percayanya menatap orang yang berani memanggilnya disaat dia telat masuk kelas pagi ini.

Donghae tersenyum manis dan berlari mendekat kearah Jessica.

“Ada yang ing-”

“Nanti saja, oke? Aku telat masuk kelas kali ini, annyeong!” potong Jessica dengan cepat lalu berlari menuju kelasnya. Donghae mengangkat sebelah alisnya, jarang sekali melihat nona es telat masuk ke kampus biasanya dia selalu ontime.

“Hae-ah!” giliran Donghae kali ini mencari sumber suara, tapi sesaat tampang bingungnya berganti dengan tampang gembira, Kyuhyun yang berjalan mendekat kearahnya dengan tak lupa menyunggingkan smirk.

“Ah, akhirnya kau datang, Kyu-ah. Kajja! Aku butuh saran darimu” kata Donghae sesaat setelah Kyuhyun berdiri didepannya, tak lupa merangkulnya dan berjalan menuju cafetaria kampus. Kyuhyun menatap aneh pada sahabatnya. Saran? Seorang Lee Donghae meminta saran padanya?  Ada yang salah dengan namja ini, batin Kyuhyun.

***

Melewati gerbang fakultas, Kyuhyun melihat sebuah mobil ferrari merah yang berhenti disana. Tak lama keluar sosok yang sangat ia kenali, Choi Sooyoung.

Disisi kemudi juga ikut turun seorang namja dengan senyum ramahnya. Setelah beberapa saat melihat mereka berbasa-basi, kini Sooyoung berjalan memasuki gedung fakultasnya. Si namja kembali masuk ke mobil dan meninggalkan lingkungan kampus.

Wajah Kyuhyun yang kelam, dapat dilihat oleh Donghae. Setelah melihat penyebabnya, Donghae hanya bisa menghela nafas lalu menepuk bahu sahabatnya.

“Rebut kembali dia, sebelum kau menyesal, evil. Aku tau kau itu tidak bisa melupakan dia. Dan jangan membantah, aku sudah tau semuanya” kata Donghae, Kyuhyun hanya menarik nafas lalu menghembuskannya. Kembali berjalan tanpa memerdulikan kata-kata dari Donghae.

“Dia memang sangat keras kepala. Ya! Evil, aku butuh saran! Ya! Tunggu!!”

***

Seoul, 7 Februari 2008

“Appa sudah menyiapkan semuanya, minggu depan kau akan berangkat ke Jepang. Jika kau masih berhubungan dengan Cho Kyuhyun, appa akan mengirimmu ke Jepang hari ini juga, arraseo?”

Sooyoung hanya terdiam membisu. Kata-kata appanya memang tak pernah bisa dibantah, apalagi tak ada sang oppa yang akan membantunya.

“Bolehkan aku menemuinya satu kali saja, appa? Untuk yang terakhir kalinya”

“Untuk apa? Appa tidak akan membiarkan kau bertemu lagi dengan namja itu, camkan itu Choi Sooyoung!”

***

“Abeoji, ini semua, APA YANG TERJADI SEBENARNYA???” teriak Kyuhyun, emosinya tersulut mendengar penuturan sang ayah.
Sang ayah hanya tetap diam tak berkata apa-apa.

“ABEOJI!!!!”

“Mianhae, Kyu-ah. Kau memang harus melupakan yeoja itu, mianhae”

***

Waktu sekarang…

“Sica-ah!!!”

“Aish, siapa lagi sih? Tadi tuan ikan, sekarang siapa lagi, ha?” teriak Jessica tapi begitu membalik badan untuk melihat seseorang yang meneriaki namanya, luapan emosi yang siap ia ledakkan terhenti di tenggorokkan, wajah ceria sahabatnya lah yang ia lihat, Choi Sooyoung tersenyum kaku sedikit takut melihat raut kemarahan Jessica.

“Hai”

“Ah, ternyata kau. Aku kira tuan ikan yang mengikutiku, aish.. pagi ini aku begitu sebal padanya. Kau tau, hampir saja aku diusir Prof. Han kalau saja aku menuruti tuan ikan bodoh itu, ck. Menyebalkan sekali hariku ini, Soo-ah” cerocos Jessica dengan nada berapi-api, Sooyoung hanya mendengarkan cerita dengan senyum geli dan merangkul bahu sahabatnya itu.

“Eh, iya.. seharusnya kau juga sekelas denganku tadi, tapi aku tidak melihatmu. Kau kemana?”

Sooyoung hanya terkekah melihat sahabatnya itu, “Ya! Kau itu jahat sekali, baru menyadari kalau tadi aku tidak ada”

“Hei, kan tadi sudah aku katakan aku begitu sebal pagi ini jadi tak sempat memperhatikan keadaan sekitar, kau darimana? Membolos, eoh?” selidik Jessica.

“Bingo!” jawab Sooyoung lalu begitu saja berjalan meninggalkan Jessica yang masih menatap bingung padanya.

***

Sooyoung POV

Menyenangkan juga menjahili Jessica, pagi ini aku memang sengaja tidak mengikuti mata kuliah Prof. Han dan memilih mengganggu pekerjaan Siwon oppa dikantornya.

Kuhembuskan nafas lega, sedikit lega sebenarnya. Masih ada yang menyesakkan yang aku rasakan didada. Aku pun tidak tau sampai kapan, rasa sesak ini akan hilang.
Cho Kyuhyun.

Entah kenapa nama itu kembali terniang di pikiranku. Ini adalah hari pertamaku berada dikampus setelah pertemuan terakhirku dengan Kyuhyun tempo hari. Setelah aku mengatakan menyerah padanya, setelah dengan tegas aku berkata tidak akan mengharapkannya lagi, setelah aku rela untuk melepaskannya, dan setelah aku bergelut lama dengan kisahku dengannya yang tidak berarah empat tahun ini.

***

Siwon oppa tadi bercerita kalau dia memang benar-benar menyukai Tiffany Hwang, gadis yang sebenarnya akan dijodohkan dengannya. Aku sempat tidak percaya dengan perkataan oppaku itu, aku kembali ingat seperti apa dia dulu terpukul ditinggal pergi Im Yoona yang mengejar cita-citanya di Hollywood.

Sejak saat itu aku tidak pernah tau ataupun mendapat kabar percintaan Siwon oppa dekat dengan seorang yeoja manapun, dari itu aku menyimpulkan dia masih menunggu Yoona sampai sekarang.

Meskipun Siwon oppa juga menuntut ilmu di Amerika Serikat, tapi tidak pernah sekalipun aku mendengar ceritanya tentang Im Yoona saat kami berkomunikasi. Dan saat ini aku sadar, kalau Siwon oppa memang benar sudah melupakan Yoona. Dari caranya bercerita tentang Tiffany Hwang aku tau itu.

“Ya! Kau ini! Aku belum selesai bicara, Soo-ah” kurasakan seseorang menepuk bahuku dari belakang dan dengan suara cemprengnya Jessica Jung, seseorang itu membuat beberapa mahasiswa menoleh kearah kami.

“Hei, jangan berteriak, aku tidak tuli, Sica-ah” kataku dengan intonasi suara lebih rendah, cukup malu dengan kelakuan sahabatku ini. Lihatlah, sekarang dia hanya nyengir tanpa dosa dan segera menarikku ke cafetaria yang tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang.

***

Author POV

“Hae-ah, malam ini kau tidak ada acara kan? Entah kenapa, hari ini aku begitu merindukan Vegas Club, ayo kita kesana!” celetuk Kyuhyun saat keduanya berjalan dipelataran parkiran gedung kampus mereka sore ini.

“Ya! Jangan mulai lagi, Cho Kyuhyun! Bukankah kau sudah berhenti dari kebiasaan mabukmu itu, ha?” protes Donghae. Kyuhyun hanya terkikik geli melihat ekspresi berlebihan sahabatnya itu.

“Ayolah, Hae-ah. Hanya kali ini saja, pikiranku begitu kacau akhir-akhir ini. Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku melupakan itu. Kajja!” jawab Kyuhyun masih dengan santai dan menarik seenaknya baju Donghae dan membawanya masuk kedalam sisi kanan mobilnya.

Donghae hanya bisa pasrah dan berharap memang ini yang terakhir kalinya seorang Cho Kyuhyun minum.

***

“Wah, club ini semakin ramai saja ya.. Padahal belum lama juga aku tidak menginjakkan kaki disini, ckck.. Daebak! Kajja, Hae-ah!” puji Kyuhyun saat kakinya melangkah masuk dalam club malam ini. Donghae hanya berjalan lesu dibelakangnya.

“Yunho hyung! Ah, lama tak bertemu. Buatkan aku seperti biasanya, hyung” kata Kyuhyun saat melihat seorang namja yang berada dibalik meja bartander, yang diajak bicara hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.

“Ah, welcome home! Rasanya seperti kembali ke rumah” tanpa di suruh kini Kyuhyun sudah duduk didepan meja bartander itu, “Aish, ckck, Hae-ah, kemarilah! Kali ini aku yang traktir, minumlah sepuas-puasnya” lanjutnya saat melihat Donghae hanya berdiri didepannya.

“Hey, kau tidak berniat mabuk berat kan malam ini?” tawa Kyuhyun terdengar sebagai jawaban pertanyaan Donghae, yang bertanya hanya menatap anah kawannya itu.

“Hey, itulah yang aku harapkan malam ini. Mabuk berat sampai aku bisa lupa semuanya, lupa semuanya yang mengganggu disini..” jawab Kyuhyun setelah tawanya reda, sambil menunjuk kepalanya, “dan juga disini” lanjutnya lalu menujuk dadanya.

***

Hanya satu jam sejak mereka masuk, kini Kyuhyun sudah tergeletak dimeja bar. Donghae hanya mentap tidak percaya. Mereka tadi masuk jam delapan malam dan sekarang baru jam sembilan lebih sepuluh menit, seorang Cho Kyuhyun sudah tak sadarkan diri, benar-benar rekor.

“Hey, evil! Bangunlah! Hey, ayo bangunlah!” yang diajak bicara hanya merancau tak jelas.

“Youngie…kau benar-benar…ingin melupakanku, eoh? Kau tau…aku masih mencintaimu, babo! Aku mencintaimu, Youngie… jeongmal..” begitu saja kata-kata itu terlontar dari mulut Kyuhyun dan Donghae yang masih dengan kesadaran seratus persen jelas mendengar pernyataan sahabatnya itu.
Sebelum akhirnya melangkah meninggalkan sahabat yang masih terkapar, Donghae terlebih dahulu menelfon seseorang.

“Ingat, kau berhutang banyak padaku, evil” katanya sambil menepuk bahu Kyuhyun lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun setelah sebelumnya mengambil kunci mobil Kyuhyun dan berjalan keluar dari club.

Tidak beberapa lama, seorang yeoja melangkahkan kaki masuk kedalam club. Tampak sekali raut kekhawatiran terpancar diwajahnya. Untuk pertama kalinya ia memasuki tempat seperti ini, dentum musik keras dan beberapa yeoja yang berpenampilan mengundang berjalan menatapnya dengan wajah menyebalkan.

***

Sooyoung POV

Setelah mendapat telfon dari Donghae, beberapa menit yang lalu entah kenapa aku menjadi sangat khawatir sekarang. Masih didalam kamar, aku berjalan mondar-mandir. Beberapa kali menyakinkan diri dengan segera kusambar cardigan panjangku dan tas selempang tak lupa ponsel lalu berjalan keluar dari kamar.

“Youngie, mau kemana? Ini sudah malam” suara berat Siwon oppa menghentikan langkahku dari tangga lantai dua. Aku menatap Siwon oppa dengan tatapan memohon,

“Jebbal, biarkan aku pergi kali ini, oppa. Aku tidak kabur kok, aku cuman pergi sebentar. Tadi Jessica menelfonku dan memintaku untuk menemuinya di pintu gerbang kompleks perumahan, jebbal, oppa?” kulihat Siwon oppa menghela nafas,

“Arraseo, hanya sebentar. Cepat kembali! Bila kau tidak segera kembali, oppa akan segera melapor ke polisi, arra?”

Dengan cepat aku menganggukkan kepala, “Arraseo, oppa. Annyeong!”

***

Sekarang disinilah aku berada, omong kosong Jessica yang memintaku menemuinya di gerbang kompleks. Aku sekarang berada didepan sebuah club malam, tadi Donghae menelfonku dan memintaku kemari. Donghae mengatakan kalau Kyuhyun sedang mabuk berat disini dan Donghae meminta tolong padaku untuk membawa Kyuhyun pulang, dia tidak bisa membawanya karena saat ini dia ada di Busan untuk sebuah urusan.

Dengan keras tadi aku menolak permintaan Donghae, tapi Donghae berkata Kyuhyun bernar-benar parah kali ini, Donghae yang tadi ditelfon oleh pelayan club mengatakan kalau Kyuhyun sudah tidak sadarkan diri dimeja bar.

Aku benar-benar asing dengan tempat ini, ini adalah pertama kalinya aku memasuki sebuah club malam. Begitu memasuki tempat ini, aku sudah disambut dentum keras suara musik dan lampu warna-warni yang terlihat remang-remang. Kutajamkan mataku untuk mencari keberadaan Kyuhyun, aku berjalan di bar dan dapat kulihat hanya ada seorang namja yang tergeletak sudah tidak sadarkan diri.

“Kyuhyun-ah!” segera aku hampiri Kyuhyun. Menghela nafas lega karena aku berhasil menemukannya. Melihatnya tak sadarkan diri karena mabuk kali ini cukup membuatku sedih, Kyuhyun hanya merusak tubuhnya dengan hal seperti ini.

Aku duduk di kursi sebelahnya, dapat kulihat wajahnya yang damai saat ini. Kuberanikan diri menyentuh wajahnya dengan tangan kananku. Mengelus pipinya, merambat ke dahinya hingga rambutnya. Air mataku menetes, sungguh, aku sungguh merindukan sosok Kyuhyun yang seperti ini. Tangan kiriku, aku gunakan untuk menutup mulutku yang siap bersuara karena isak tangisku.

“Oppa, Kyuhyun oppa…” ditengah tangis, kusebut nama itu.

“Jebbal, jangan menyerah, Youngie… jangan menyerah padaku…” rancau Kyuhyun. Aku tau sekarang ini ia sedang mabuk, tapi kata-katanya kali ini seperti ucapan tulusnya dari hati.

“Jebbal… jangan pergi lagi…” lanjutnya, kutelusuri lekuk wajahnya. Tiba-tiba butir air mata jatuh dari mata sebelah kirinya. Kubekap mulutku dengan kedua tangan, sungguh aku tidak menyangka akan seperti ini padanya. Kyuhyun-ah, sebenarnya apa yang kau lakukan empat tahun ini? Apa aku sungguh sangat berharga untukmu? Kamana perginya dirimu yang dulu? Apa karena aku kau menjadi seperti ini? Kyuhyun-ah…

To Be Continue…

jangan lupa RCL ya😀