sooyoung-crop

Author: starralova ( @tvilluajeng )
Main Cast: Cho Kyuhyun Super Junior & Choi Sooyoung SNSD
Other Cast: Lee Donghae, Jessica Jung, Choi Siwon, Tiffany Hwang & member Super Junior-SNSD
Rating: PG-15
Genre: Romance, Sad, Family and a little comedy

*** *** *** *** ***

Anyyeongggggggg…..!!!!!!

Kyaaaaa… akhirnya saya comeback juga😄, ekeke…
Setelah sembilan hari yang lalu comeback dengan album baru I Got A Boy sama SNSD  #plak #abaikan sekarang aku comeback lagi kedunia blog😄 ,ekekekeee…

Makasih banget buat reader yang tadi udah mention aku di twitter dan ngingetin aku buat ngepost part selanjutnya dari ff ini :”D . jujur aja aku juga hampir lupa loh😡 ,ekeke.. *keasikan liburan soalnya*

Mianhae ya, udah buat readers semua nunggu lama ff abal ku ini🙂 makasih yang masih setia menunggu, sempet loh aku kena sindrom males tapi karena banyak yang ngingetin aku lewat twitter dan komentar-komentar kalian di blog ini, ngebuat aku semangat lagi loh :”D

Gomawo, readers sayang :”D #bow

Aku ingetin untuk kalian yang baca ini supaya komen, soalnya aku mau tau seberapa sih reader yang mau baca ff abalku ini dan buat nambah semangatku buat ngelanjutin ff ini😀

HAPPY READING!!!

*** *** *** ***

‘Takdir. Bisakah aku menentangnya? Bisakah aku merubahnya? Aku hanya ingin dia yang menjadi takdirku’

Author POV

Kediaman keluarga Choi begitu sibuk pagi ini. Beberapa pengawal bolak balik dari dalam rumah. Nyonya Choi hanya menangis di sofa ruang tengah dengan menggenggam sepucuk surat. Sang putra tampak berdiri disamping sang eomma dengan tatapan mata kosong dan sedih. Tuan Choi hanya menatap kearah depan sambil mendengarkan para pengawal yang sedang memberi informasi padanya.

Semua kekacauan ini, karena menghilangnya si putri keluarga Choi yang tiba-tiba dengan hanya meninggalkan sebuah surat yang bertuliskan,

‘Aku ingin bahagia, eomma. Jadi biarkan aku pergi, aku akan baik-baik saja’

“Appa puas sekarang? Inikah yang Appa inginkan?” suara Siwon memecahkan kesunyian di ruangan itu. Sang appa tetap diam tak menjawab.

“Semoga saja appa sadar setelah kejadian ini. Annyeong!” lanjut Siwon kemudian keluar dari rumah setelah dengan sengit menatap sang ayah. Sang ibu hanya bisa menangis dengan pilu, tanpa bisa menghentikan kepergian anak sulungnya itu.

***

Seoul, 10 Januari 2007

“Jadi mereka masih tetap bersama?” kata seorang pria paruh baya melihat foto-foto anaknya dengan anak musuhnya.

“Ne, tuan. Sampai sekarang mereka masih tetap menjalin hubungan” jawab seorang lelaki yang lebih muda dihadapannya.

“Berani sekali seorang Cho mendekati anakku” kata pria paruh baya itu lagi sambil tersenyum sinis menatap sebuah foto dua sejoli yang sedang bergandengan tangan di sebuah taman hiburan,

“Tugasmu sudah selesai, Minjoo. Bayaranmu segera akan kukirim” lanjutnya. Si lelaki yang dipanggil Minjoo hanya tersenyum kemudian membungkuk hormat dan keluar dari ruangan itu.

***

Seoul, 12 Januari 2007

“Apa kau tidak menurut dengan perintah appamu, Choi Sooyoung?” kata tuan Choi dengan nada tinggi kemudian melempar foto-foto di meja yang berada didepannya. Sooyoung begitu ketakutan, digenggamnya tangan sang eomma untuk meminta pertolongan sang eomma.

“Appa sudah mengatakannya, bukan? Jangan pernah dekat lagi dengan anak keluarga Cho itu. Kau masih membangkang, Choi Sooyoung!” teriak sang appa. Sooyoung kini hanya bisa memeluk bahu sang eomma dan menangis disana.

“Appa aku… aku..mencintai.. namja.. itu.. aku.. sangat..” jawab Sooyoung kini dengan terbata-bata.

“Appa akan mengirimmu ke Jepang! Kalau perlu, sekarang appa bisa mengirimmu ke Jepang, Choi Sooyoung!” kata sang appa dengan tegas kemudian berjalan menjauh dari Sooyoung yang kini menangis dipelukan sang eomma. Eommanya hanya diam dalam tangis sambil mengelus rambut panjangnya, tanpa bisa menentang perintah suaminya.

***

Kebencian Choi Jungnam, ayah Sooyoung dengan Cho Insung, ayah Kyuhyun memang sudah mendarah daging. Kematian sang adik 21 tahun yang lalu membuatnya begitu membenci mantan sahabatnya itu.

Adik perempuan Choi Jungnam, Choi Jungmin sangat mencintai Cho Insung bahkan restu keluarga sudah didapat dan mereka akan menikah. Namun saat upacara pernikahan, Cho Insung tidak muncul dan membuat Choi Jungmin depresi hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri. Choi Jungnam tidak pernah rela akan hal itu, dan masih menyimpan dendamnya sampai saat ini.

Itulah alasan mengapa dia sangat membenci marga Cho. Apalagi saat mengetahui putri satu-satunya yang ia miliki tengah menjalin hubungan dengan anak Cho Insung. Ia tidak ingin kejadian 21 tahun silam yang menimpa sang adik terulang pada putrinya dan tentunya rasa dendamnya yang sampai saat ini belum menghilang dari hatinya.

***

Pikiran Siwon sangat kalut saat ini, menghilangnya sang adik dini hari tadi membuatnya hilang akal dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Setelah meninggalkan rumah, kini dia berada dalam mobil yang entah membawanya pergi kemana, sampai sebuah panggilan masuk di handphonenya.

“Yeoboseyo?”

“Oppa,..” suara penelfon membuat Siwon dengan reflek mengerem laju mobilnya. Untungnya jalanan sepi saat ini, hingga tidak menyebabkan kecelakan dari tindakan Siwon itu.

“Youngie, kaukah ini? Dimana sekarang kau berada, Youngie? Oppa akan menjemputmu sekarang, jebbal jangan seperti ini, dongsaeng” kata Siwon dengan khawatir. Yang terdengar hanya suara isak tangis disambungan telfon itu, Siwon meremas stir mobilnya sekarang. Suara tangis adiknya terdengar sangat menyakitkan dihatinya.

Dengan masih menahan isak tangis Sooyoung menjawab pertanyaan sang oppa.

“Baik, tunggu oppa disana, jangan kemana-mana. Oppa akan cepat datang, tunggu oppa!” jawab Siwon dengan segera menginjak gas mobil dan melesat dengan kecepatan balap. Seperti inilah Siwon bila menyangkut sang adik, rasa sayangnya yang begitu besar pada sang adik mengalahkan semua akal sehatnya.

***

Setelah menutup telfon dengan sang kakak, kembali isak tangis Sooyoung pecah. Air mata yang belum kering di kedua belah pipinya kini bertambah lagi dengan air mata baru yang keluar dari kedua bola mata beningnya.

Sang namja yang ditunggunya tak kunjung datang. Membuatnya memutuskan untuk menghubungi sang oppa dan menyerah dengan perasaan cintanya pada namja yang ditunggunya.

Tak lama menunggu, sebuah tangan menepuk bahu kirinya. Sooyoung mendongkak dan menemukan sang oppa yang menatapnya dengan sedih,

“Oppa berhasil menemukanmu, Youngie” kata Siwon dengan senyum yang kini mengembang diwajah tampannya tampak kelegaan disana. Dengan cepat Sooyoung berdiri dari duduknya dan merengkuh tubuh sang oppa. Menangis sepuas-puasnya disana. Siwon menganggat tangannya untuk juga memeluk tubuh dongsaengnya, kemudian mengelus rambut panjang Sooyoung untuk menenangkannya.

“Oppa disini, saeng. Stt.. jangan menangis lagi, arachi?” Sooyoung tetap terisak didada sang oppa dengan kedua tangannya yang kini meremas ujung jaket yang dipakai sang oppa.

Tak jauh dari tempat itu, hanya tertutup pohon yang cukup besar berdiri seorang namja yang menatap Choi bersaudara. Tidak ada yang menyadari keberadaan namja tersebut yang sudah sejak tadi mengawasi Sooyoung, dia hanya diam tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Bahkan sampai Choi bersaudara meninggalkan tempat itu.

“Mianhae, Youngie. Jeongmal mianhae. Bencilah aku setelah ini, itulah harapanku untuk saat ini” kata namja itu dengan lirih kemudian berjalan berbalik arah dan merapatkan hoodie coklat yang dipakainya.

***

Siwon POV

Aku tidak mungkin membawanya pulang kerumah saat ini. Entah apa yang appa lakukan pada Sooyoung nanti aku tak berani membayangkannya. Setelah membawa Sooyoung pergi dari taman kini kami berada di restoran jepang, aku lihat dia sangat kelaparan dengan wajah yang lelah sungguh tak tega aku melihatnya yang biasa ceria dan tersenyum lepas.

“Youngie, makanlah. Oppa tau kau belum makan sejak kemarin malam, jadi jangan buat oppa khawatir lagi, ne?” kataku menyodorkan nasi kari pedas kesukaannya. Sooyoungie  hanya diam memandang jendela yang penuh dengan pejalan kaki, lalu tiba-tiba bersuara dengan lirih,

“Oppa, aku akan mengikuti perjodohan yang diinginkan appa. Oppa tidak perlu lagi membantuku” senyum pedihnya kini muncul di wajahnya dan air mata yang membasahi pipinya. Aku menghela nafas panjang,

“Jangan fikirkan masalah perjodohan sialan itu, ne? Sekarang kita makan dan oppa akan membawamu ke apartement pribadi oppa. Kau butuh ketenangan sekarang, Youngie” jawabku lalu mengelus rambutnya dengan sayang.

“Andwae, bawa aku kembali ke rumah, oppa. Aku akan segera berbicara dengan appa tentang keputusanku” kata Sooyoungie tidak mau kalah. Aku hanya mengangguk pasrah dengan keinginannya itu.

***

Author POV

“Setelah kau mengatakan kabur, sekarang kau kembali lagi, Choi Sooyoung?” kata sang appa dengan sinis saat Sooyoung dan Siwon masuk kedalam rumah. Sooyoung menatapnya dengan sedih lalu tatapannya menjadi kosong,

“Aku menerima perjodohan yang appa inginkan. Mulai saat ini aku akan menurut dengan semua keinginan appa, appa senang?” kata Sooyoung dengan lirih. Sontak sang appa membelalakkan mata tanda tak percaya.

“Kalau perlu, pertemukan aku dengannya nanti saat makan malam..” Sooyoung menarik nafas panjangnya, “..Appa” lanjutnya kemudian berjalan melewati sang appa yang mematung kaget.

“Ini yang abeoji inginkan bukan?” kata Siwon kemudian berjalan mengikuti sang adik yang terlebih dahulu menaiki tangga ke lantai dua.

“Ini keinginanmu, yeobo? Putri yang kau sayangi sekarang begitu menderita, inikah yang kau harapkan?” katanya sang istri dengan histeris yang sejak tadi hanya menangis, lalu ikut berjalan meninggalkan sang suami yang terdiam membeku.

***

“Youngie, jangan seperti ini. Oppa sudah berjanji bukan denganmu? Jadi biarkan oppa yang menjalani perjodohan ini” kata Siwon sambil menahan sang adik yang akan masuk kedalam kamarnya.

“Anniya, oppa. Sudah cukup oppa membantuku. Selanjutnya akan aku selesaikan sendiri, aku tau oppa masih sangat mengharapkan Yoona-ssi. Tunggulah, dia akan kembali untuk oppa” jawab Sooyoung disertai senyum manis yang biasa ia tunjukkan. Tapi dibalik itu Siwon menyadari adiknya kini tengah patah hati.

“Aku begitu lelah, oppa. Bisakah oppa meninggalkan aku sendiri saat ini?” lanjut Sooyoung yang dibalas oleh anggukan Siwon dan senyum manisnya.

‘Aku tidak akan membuatmu menderita, saeng. Kali ini biarkan aku yang bertindak’ batin Siwon saat menatap punggung adiknya yang kini menghilang dibalik pintu kamarnya.

***

Siwon POV

“Kerjakan proyek Jeju yang sedang kita kerjakan dengan Hwang Corp. Putri tuan Hwang juga ikut dalam proyek itu” kata appa saat aku dipanggil ke ruang kerjanya. Sungguh aku tak menyangka semua ini. Apakah ia menyetujui keinginanku?

“Mwo? Jinjjayo, abeoji?” tanyaku dengan terkejut, kulihat appa hanya mengangguk dan berdehem untuk menjawabnya. Masih terfokus pada laporan-laporan di meja kerjanya. Appa memang gila kerja.

“Jadi abeoji tidak jadi menjodohkan Youngie kan?” tanyaku masih dengan antusias, kini kegiatan appa berhenti dan menatapku,

“Aku masih belum memutuskannya. Tapi bila kau memang bisa mendapatkan hati putri tuan Hwang, mungkin appa akan membatalkan perjodohan Youngie” jawabnya dengan kalem, aku tersenyum semakin lebar.

“Gomawoyo, abeoji. Aku tau kau memang menyanyangi kami, jeongmal gomawoyo, abeoji” kataku sambil memberi hormat dan memilih untuk keluar dari ruangannya, kulihat sekilas appa tersenyum.

Lihat, saeng! Giliran Oppa kali ini. Lihat dan diamlah! Oppa akan membuat kau bahagia. Batinku, saat melihat kamar Youngie yang aku lewati.

***

Sooyoung POV

Tak terasa sengat sinar matahari menerpa wajahku pagi ini, sedikit menyesuaikan mataku lalu aku bangun dan meregangkan tubuhku. Kemarin adalah hari melelahkan untukku, semua terasa cepat dan kini harus aku hadapi perjodohan yang appa inginkan.

“Youngie, kau sudah bangun? Bolehkan eomma masuk?” suara eomma dan ketukan pintu membuatku tersadar dan segera beranjak membuka pintu kamar, kulihat eomma yang tersenyum hangat menyambutku.

“Kau baik-baik saja kan? Kau tau, eomma sangat mencemaskanmu kemarin. Jangan lakukan lagi hal seperti itu, arra?” kata eomma sambil menggenggam kedua tanganku saat kami duduk di tepi ranjang. Aku hanya tersenyum dan menatap wajahnya, sungguh aku ingin menangis bila seperti ini, ingin aku katakan aku tidak baik-baik saja, aku sakit, sakit dihatiku, eomma.

Kudekap erat tubuh eomma, rasa nyaman yang aku dapatkan. Tanpa bisa aku kontrol air mata yang sejak tadi aku tahan jatuh juga, diiringi isakku di bahu eomma.

“Menangislah, Youngie. Menangislah..” kata eomma sambil mengusap punggungku dengan lembut. Kata-kata eomma bagaikan mantra yang semakin membuat tangisku pecah, isak tangisku yang mulanya lirih, kini makin terdengar keras. Eomma tetap mengusap punggungku, tak berusaha menghentikan tangisku, dia hanya diam.

“Eomma, aku tidak baik-baik saja. Disini eomma, disini rasanya begitu menyesakkan” kataku dengan menekan dada kiriku, “begitu sesaknya sampai rasanya aku ingin mati. Sakit sekali eomma” semakin kueratkan pelukan eomma.

***

Kyuhyun POV

Sore ini aku masih berada di kampus, ada mata kuliah Prof. Kim yang sangat membenci mahasiswa yang membolos di mata kuliahnya dan tentu saja aku tidak ingin menjadi salah satu mahasiswa yang dibenci Prof. Kim karena resiko terbesarnya adalah aku tidak akan lulus pada mata kuliahnya.

Kuhampiri Donghae di taman fakultas yang ternyata juga masih di kampus. Tidak biasanya dia masih di kampus sesore ini.

“Ya evil! Kemana saja kau? Setelah kembali ke rumahmu, kau jadi jarang sekali menemuiku” sungut Donghae yang hanya aku balas dengan senyum tanpa dosaku.

“Aish, kau itu membuatku khawatir saja. Ah, iya. Kemarin Sooyoung menghubungiku, menanyakan dirimu. Sudah bertemu dengannya?” kata-kata Donghae mengingatkan ku lagi pada yeoja itu. Choi Sooyoung. Donghae masih menunggu jawabanku, aku hanya menggeleng pelan lalu berjalan meninggalkannya.

“Ya! Aku belum selesai bicara, evil!” teriaknya.

Choi Sooyoung. Aku sudah memastikan, oppanya sudah menjemputnya kemarin, jadi tak ada yang perlu aku khawatirkan. Kau tak perlu lagi khawatir, Cho Kyuhyun. Bukannya kau sudah memutuskan untuk melupakannya.

“Kyuhyun-ssi!” panggil sebuah suara, kutengok ke sumber suara itu dan kulihat yeoja berambut pirang sedang berlari kearahku. Dibelakang yeoja itu kulihat Sooyoung yang hanya berjalan tanpa semangat menyusul yeoja pirang itu setelah sebelumnya kulihat tatapan terkejutnya melihatku.

“Ne? Waeyo?” tanyaku pada yeoja berambut pirang didepanku, kalau aku tidak salah yeoja ini bernama Jessica Jung tetangga sebelah rumah Donghae. Dan kalau benar dugaanku,

“Kau melihat Lee Donghae? Aku sudah sejak tadi mencarinya, tapi belum menemukannya” Bingo! Tepatkan tebakanku? Aku jawab dengan menoleh kebelakang, kulihat Donghae yang berjalan dengan santai.

“Itu dia!” kataku.

“Ah, gomawoyo Kyuhyun-ssi” jawab Jessica dengan senyum simpulnya, lalu berlari kearah Donghae. Dapat kulihat kini Jessica memukul kepala Donghae dan Donghae yang berteriak-teriak marah, pasangan yang lucu.

Aku kembali melangkahkan kaki, saat kulihat kini dihadapanku hanya berjarak dua meter Sooyoung masih berdiri dengan menatapku sedih. Aku tetap berjalan melewatinya, tapi hanya beberapa langkah setelah aku melewatinya,

“Kau tidak memberiku kesempatan kali ini, Kyu-ah?” ucapannya cukup membuat langkah kakiku berhenti, “Padahal aku berharap kau datang kemarin, sebegitunya kau membenciku, Kyu-ah?” aku tetap terdiam, membiarkannya terus berbicara.

“Gomawo untuk semua yang kau berikan empat tahun yang lalu. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku lagi, mianhae aku membuatmu seperti ini. Anyyeong” tutupnya lalu berjalan melangkah menjauhiku.

Aku tetap diam, sungguh kata-katanya tadi seperti sebuah mantra yang mampu membunuhku dalam sekejap. Bahkan rasanya untuk melangkahkan kakiku ini sangat sulit. Dia telah menyerah, menyerah untuk diriku. Ini yang ku inginkan, tapi kenapa rasanya aku merasa sesak didadaku saat kata-katanya terucap.

***

Seoul, 3 Februari 2008

“Seangil chukae hamnida!!! Oppa, tiup lilinnya!”suara cempreng seorang yeoja saat seorang namja datang menemuinya setelah pulang sekolah di belakang gedung sekolah. Si namja hanya menatap tak percaya yeoja yang masih menyunggingkan senyum cerianya dengan cake kecil yang ada ditangannya tak lupa tiga buah lilin yang menyala.

“Youngie? Kau tau hari ulang tahunku?” tanya si namja masih dengan wajah terkejutnya. Si yeoja hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan si namja,

“Cepat buat permohonan, Oppa! Lalu tiup lilinnya, ppali!”kata si yeoja kini dengan senyum lebarnya, si namja hanya tersenyum bahagia lalu segera menutup matanya, membuat permohonan kemudian kembali tersenyum dan meniup lilin diatas cake yang dibawa si yeoja.

Si yeoja tetap tersenyum, “Selamat ulang tahun, Oppa. Bagaimana kejutanku? Kau terkejut bukan dengan semua ini?”
“Gomawoyo, Youngie” kata si namja sambil mengacak rambut si yeoja.

“Ne, cheonma” kembali senyum cerianya terukir diwajah manisnya, si namja ikut tersenyum dengan perasaan bahagianya.

***

“Apa permohonanmu tadi?” tanya si yeoja saat kedua kini duduk di bawah pohon masih dibelakang gedung sekolah memakan cake tadi dan merasakan hembusan angin sore yang menenangkan.

“Wae? Bukankah itu rahasia? Jadi untuk apa aku memberitaukan padamu?” si namja ganti bertanya dengan masih fokus pada cake yang akan ia makan. Mendapat jawaban yang tak ia harapkan, kini si yeoja cemberut menatap namja didepannya.

“Jangan menatapku seperti itu, kau menakutkan tau” kata si namja, yang menyadari tatapan si yeoja padanya. Si yeoja hanya berdecak sebal lalu mengalihkan tatapannya, menatap langit sore dihadapannya.

“Permohonanku tadi itu…” pancing si namja, si yeoja yang tadi melengos kembali menatapnya. Tawa si namja kini terdengar, ternyata dia hanya menggoda si yeoja. Tau hanya digoda si yeoja segera berdiri untuk meninggalkan si namja. Belum sampai ia melangkah, dua buah tangan mendekap bahunya dari belakang,

“Permohonanku hanya satu, untuk tidak berpisah denganmu. Youngie, saranghaeyo..”

To Be Continue..