choi sooyoung
Author: starralova
Main Cast: Cho Kyuhyun Super Junior & Choi Sooyoung SNSD
Other Cast: Lee Donghae, Jessica Jung & member’s Super Junior-SNSD
Rating: PG-15
Genre: Romance, Sad, Family and a little comedy
DON’T BE SIDERS!!! TOLONG TINGGALKAN KOMENTAR!!!
Happy Reading!!!

Author POV
Seoul, 13 Februari 2008
“Abeoji, aku mohon restui hubungan kami” kata seorang namja berseragam sekolah yang saat ini berlutut dihadapan ayahnya. Sang ayah hanya terdiam dan menatap langit malam kota Seoul dari jendela di ruang kerjanya.
“Aku mohon, Abeoji. Hanya ini saja permintaanku” desak namja tadi tak gentar.
“Aku bilang jangan berhubungan lagi dengan gadis itu. Cari gadis lain, asalkan jangan gadis itu” jawab sang ayah kemudian berjalan meninggalkan si namja sendirian didalam ruangan tadi. Namja tadi tetap berlutut sambil menundukkan kepalanya, kemudian bahunya bergetar menandakan namja itu kini menangis.
***
Waktu sekarang…
Gemerlap lampu dan dentuman musik keras yang bisa memekikan telinga, tak dihiraukan oleh seorang namja yang menelungkupkan kepalanya di meja bar dengan tangan kanan masih memegang botol bir yang isinya tinggal setengah, dimeja itupun terlihat dua botol bir yang telah kosong menandakan sudah habis diminum sang namja.
“Ya!! Kyu-ah, berhentilah minum. Ayo pulang!” kata seorang namja melihat kawannya yang sudah mabuk berat dimeja bar.
“Anniya, Hae-ah. Ck, aku belum mabuk kok. Aku masih mau disini” jawab namja itu, Cho Kyuhyun dengan suara khas orang mabuk. Donghae hanya bisa berdecak kesal melihat kearah jam tangannya yang kini menunjuk jam 2 dini hari, kemudian menarik namja mabuk itu dan memapahnya keluar dari club.
***
Paginya, cahaya matahari sudah menembus jendela kamar di apartement milik Donghae, terlihat seorang namja yang tertidur pulas di sebuah ranjang.
“Ck, sebenarnya ini apartementku atau apartement evil itu sih? Dia yang tidur dikamar dan aku disofa. Cih, kalau bukan karena dia sahabat terbaikku. Sudah ku usir dia dari dulu” gerutu Donghae sambil meninggalkan kamar dan berjalan ke dapur membuat sarapan dan kopi paginya.
Lima belas menit kemudian, Kyuhyun baru muncul dari kamar dengan rambut acak-acakan dan mata sayup orang baru bangun tidur, “Ya! Kenapa tidak membangunkanku?” teriak Kyuhyun sambil merebut roti bakar yang hendak dimakan Donghae.
“Ya!!! Rotiku!!” teriak Donghae dengan suara melengking sambil berusaha merebut rotinya kembali. “Buat sendiri sana!” lanjutnya setelah berhasil merebut rotinya.
“Cih, pelit sekali kau” jawab Kyuhyun sambil berjalan kearah lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral, meneguknya kemudian berjalan ke kamar mandi. Rutinitas seperti itulah yang dijalani Cho Kyuhyun bersama sahabatnya Lee Donghae.
“Kyu-ah, cepat ya… nanti kita terlambat!” teriak Donghae sesaat Kyuhyun masuk kekamar mandi. Yang beberapa menit kemudian, terdengar kran air dimatikan.
“Appamu tadi menelfon. Dia bertanya kabarmu, kau belum menghubunginya?” kata Donghae saat Kyuhyun baru saja keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang tergantung dilehernya dan rambut yang basah.
“Orang tua itu, selalu saja menggangguku. Aku memang tidak berniat menghubunginya, Hae-ah” jawab Kyuhyun dengan dingin kemudian berjalan ke kamar. Donghae hanya bisa menatap iba sang sahabat, tidak ada yang bisa Donghae lakukan kecuali diam. Cho Kyuhyun, namja 2 tahun lebih muda darinya itu memiliki luka dalam yang diapun tak tau dengan cara apa untuk menyembuhkan luka sahabatnya itu.
***
Seoul, 20 Desember 2007
“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku!” kata seorang yeoja pada namja didepannya saat keduanya berada ditanah lapang di belakang sekolah mereka sore hari. Jari kelingking sang yeoja terulur didepan sang namja. Sang namja tersenyum hangat,
“Aku tak akan pernah meninggalkanmu, aku berjanji” jawab sang namja sambil menautkan jari kelingkingnya. Keduanya kemudian tersenyum dan sang namja menarik sang yeoja dalam pelukannya. “Saranghaeyo. Jeongmal saranghaeyo” lanjut sang namja terdengar seperti bisikan. Sang yeoja yang masih bisa mendengarnya hanya tersenyum dalam dekapan sang namja.
***
Waktu sekarang….
Siang hari di bandara Internasional Incheon Seoul sangat padat. Baru saja sebuah pesawat tujuan dari Jepang mendarat, menyebabkan keramaian dari para penumpang yang baru saja turun berbaur menjadi satu dengan orang-orang yang telah ada di bandara. Terlihat seorang gadis dari pintu kedatangan luar negeri berjalan dengan semangat sambil menenteng sebuah koper besar ditangan kanannya dan sebuah tas tangan ditangan kirinya. Sebuah senyum lebar tak lepas dari wajah cantiknya sejak keluar dari pintu kedatangan, dia memang telah menjadi sorotan orang-orang. Setelah mencari-cari orang yang bertugas menjeputnya, akhirnya seorang pria mendatanginya dan membawa kopernya dan berjalan ke mobilnya.
“Annyeong, Mr. Han. Lama kita tidak bertemu ya” kata sang gadis menyapa sang supir, yang disapa hanya tersenyum singkat. Anak dari majikannya ini memang selalu ceria sejak dahulu tidak pernah berubah.
“Wah, Seoul banyak berubah rupanya. Ck, aku kira hanya Jepang yang paling maju, kekekeee” kata sang gadis saat mengamati deretan toko-toko dijalan dan gedung-gedung tinggi yang dilewati mobilnya. Sang supir hanya tersenyum maklum melihat keterkejutan nona mudanya ini. Nona mudanya ini memang baru saja menginjakkan kaki kembali di Seoul sejak 4 tahun dia menuntut ilmu di Negeri Bunga Sakura, Jepang.
“Aku merindukan Seoul!!! Akhirnya aku bisa kembali” lanjut sang gadis yang kini matanya berbinar-binar menatap keluar jendela mobil. “Aku rindu kimchi!!! Aku rindu ramyun!!! Aku rindu makanan Korea!!!” lanjutnya sambil mengelus perutnya dan sang supir kembali tertawa melihat nona mudanya itu, polos dan apa adanya.
***
Seoul, 27 Maret 2007
“Mianhae, aku pikir ruangan ini tidak ada yang menggunakannya” kata seorang namja saat melihat ruang musik yang biasa ia gunakan untuk berlatih telah ada orang memakainya. Sang yeoja yang sadar ada orang lain segera berbalik dan menatap sang namja.
“Gwaenchana. Inikan ruang bersama. aku juga sudah selesai memakainya kok” jawab sang yeoja yang kini terlihat memasukkan biola yang ia bawa kedalam tempatnya.
“Kau bisa bermain biola?” tanya sang namja sambil berjalan mendekat kearah sang yeoja.
“Eh, hanya sedikit. Hanya untuk mengisi waktu luangku saja” jawab sang yeoja kemudian berdiri dari duduknya, “Aku harus pergi, annyeong”
Sang namja yang melihat kepergian yeoja tadi hanya tersenyum, kemudian matanya menatap patitur di tempat yeoja tadi duduk. Segera mengambilnya dan berlari keluar, beharap masih bertemu dengan sang yeoja dan mengembalikan patitur yeoja tadi yang tertinggal. Sial, ternyata sang yeoja sudah menghilang dibalik koridor utama dan meninggalkan sekolah yang ternyata sudah sepi hanya tinggal beberapa saja yang berada dilapangan basket dihalaman tengah sekolah.
***
Waktu sekarang….
“Ya!!! Kyu-ah tunggu aku!” teriak Donghae memanggil sahabatnya yang berjalan terlalu cepat didepannya.
“Ck, lelet sekali kau, Lee Donghae” ejek Kyuhyun.
“Ya!!!! Jangan memanggil nama orang sembarangan! Ingat aku lebih tua 2 tahun darimu, evil!!!” teriak Donghae kemudian berlari menjajarkan langkahnya dengan Kyuhyun. Kyuhyun hanya tertawa mengejek tanpa menoleh kearah Donghae yang kini menatapnya dengan tajam.
“Oppa!!” suara yang terdengar manja menghentikan langkah Kyuhyun dan Donghae, kini seorang gadis bergelayut manja di lengan sebelah kanan Kyuhyun. Donghae hanya memutar bola matanya malas melihat Kyuhyun yang kini tersenyum manis kearah yeoja itu. Aku benci suasana seperti in, batin Donghae.
“Kyu-ah, ayo cepat! Mr. Park akan membunuh kita kalau tau kita yang telat masuk kelasnya” kata Donghae sambil menarik tangan Kyuhyun dan melepas tangan yeoja yang bergelayut dilengan Kyuhyun, “Mian, Hyunji. Kami telat masuk kelas kalau kau masih saja mengganggu Kyuhyun. Nanti saja, Oke?” lanjutnya saat yeoja tadi cemberut melihat Donghae yang dengan seenaknya melepaskan tangannya dilengan Kyuhyun. Kyuhyun hanya memberi smirk kecilnya kemudian mengecup singkat pipi yeoja tadi dan segera melesat meninggalkan yeoja itu yang kini hanya bisa melongo sambil memegang pipinya yang dicium Kyuhyun tadi.
“Ya!!! Dasar playboy!! Masih saja mencari kesempatan” kata Donghae yang tadi juga terkejut melihat aksi kawannya ini saat mencium yeoja tadi. Yang di ajak bicara hanya tersenyum dan memberikan smirk andalannya, “Bilang saja kau iri, Hae-ah” balas Kyuhyun kemudian mendahului Donghae masuk kedalam ruang kelas.
***
Sooyoung POV
Empat tahun sudah aku meninggalkan Seoul. Aku sangat merindukan tempat ini. Atau lebih tepatnya merindukan kenangan yang kumiliki di Seoul. Kenangan yang membuat dadaku sesak dan sulit bernafas setiap kali aku mengingatnya. Kenangan yang selama empat tahun belakangan selalu dan selalu mengganggu tidur nyenyakku. Kuhela nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak didadaku. Semuanya sudah selesai, Choi Sooyoung. Tuturku tiap kali aku merasa lemah seperti saat ini. Aku membenci diriku yang sangat lemah ini. Empat tahun       bukanlah waktu yang singkat. Dan Choi Sooyoung empat tahun yang lalu sudah pergi, yang ada kini hanya Choi Sooyoung yang sekarang.
“Nona, kita sudah sampai” kata mr. Han membuyarkan lamunanku tentang kenangan yang sudah lama aku kubur. Aku hanya tersenyum berterima kasih padanya kemudian berjalan ke pintu utama bangunan megah yang ada didepanku ini, rumahku. Tidak ada yang berubah dari bangunan ini, tetap saja terasa hampa dan kaku seperti tidak ada kehidupan yang hangat didalamnya. Aku berjalan masuk dan melihat seseorang yang sangat aku rindukan, Eommaku.
“Uri Sooyoungie..” aku sangat merindukan suara itu, suara Eomma yang hangat dan menentramkan. Dan setidaknya ada alasan aku ingin kembali ke Seoul, karena ibuku. Aku berlari dan memeluk erat Eomma. Ingin aku ungkapkan seberapa rindunya aku padanya. Hingga airmataku jatuh dengan sendirinya. “Eomma, nan bogoshippo..” lirihku. Semua benteng yang aku bangun runtuh setiap kali aku memeluk Eomma. Aku akan menjadi Sooyoungie kecil bila bersamanya. Aku merasa bahunya juga bergetar, eomma juga ikut menangis saat ini. Aku bisa merasakannya.
***
Suasana makan malam yang kaku dan penuh aturan. Aku membenci semua ini. Tidak ada suasana hangat, tidak ada percakapan ringan keluarga, hanya suara piring yang beradu dengan sendok dan garpu. Selalu seperti ini. Appa telah menyelesaikan makan malamnya, kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan. Aku berani jamin, sekarang dia akan sibuk dengan berkas-berkas kerjanya yang lebih penting daripada keluarganya sendiri. Hanya ada aku dan Eomma yang masih berada di meja makan. Appa yang berkuasa dan tidak ada yang berani menentangnya.
***
Author POV
Kembali terulang seperti kilatan flashback, kini Cho Kyuhyun tergeletak di meja bar dengan keadaan  mabuk hanya saja ada bulir airmata yang jatuh dari mata tajamnya. Sosoknya yang kini terlihat bukan seorang Cho Kyuhyun yang arogan dan pemikat wanita , tapi sosok lain yang terlihat putus asa dan rapuh. Ada kesedihan didalam bola matanya, kesedihan mendalam yang merubah sosok aslinya. Semuanya terjadi empat tahun yang lalu.
Donghae yang melihat dari kejauhan hanya dapat menghela nafas panjang, kemudian berjalan menghampiri sahabatnya itu,
“Sudah cukup hari ini. Ayo pulang” kata Donghae sambil menarik paksa botol bir yang siap diteguk Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa mengerang sebal dan menatap Donghae dengan tajam.
“Apa maumu sebenarnya?? Jangan menggangguku, Lee Donghae-ssi!!” jawab Kyuhyun dengan tegas, ada kilatan kemarahan dimatanya. Donghae hanya menghela nafas, membiarkan sahabatnya itu kembali meneguk bir ditangannya.
“Satu jam lagi. Hanya satu jam, Hae-ah. Dan kita akan pulang” kata Kyuhyun lirih. Kembali, airmata jatuh di kedua sisi pipinya dan tatapan mata kosong seperti tak bernyawa.
“Hanya satu jam, Kyu-ah. Dan setelah ini selesai” kata Donghae kemudian berjalan menjauh dari Kyuhyun. Donghae hanya berharap setelah ini, sahabatnya akan melupakan semua lukanya. Luka yang hanya Cho Kyuhyun yang tau, bahkan Donghae yang notabanenya berstatus sahabat dekatnya tak tau apa-apa tentang sahabatnya itu kecuali sebuah kenyataan sahabatnya ini sangat membenci sang ayah.
***
“Kita memang tidak seharusnya bersama, Kyu-ah. Kita tidak mungkin bisa bersama. Lupakan aku dan jangan mencariku lagi”
“Andwae!! Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Mari kita pergi, jangan perdulikan kata-kata orang lain. Aku mohon”
“Anniya. Bukan itu yang aku inginkan. Aku harus pergi..”
“Andwae!!” teriak Kyuhyun seraya bangkit dari tidurnya, lagi kenangan masa lalunya menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuinya. “Shit!!” teriaknya lagi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pintu kamar terbuka, Donghae muncul dan tampak khawatir.
“Kau tidak apa-apa, Kyu-ah?” tanya Donghae kini berjalan kearah ranjang Kyuhyun.
“Gwaenchana, Hae-ah. Hanya mimpi sialan yang mengganggu tidurku” jawab Kyuhyun dengan wajah dinginnya. Donghae tau sahabatnya ini tidak sedang baik-baik saja.
“Ah, aku mau mandi dulu. Minggir!” lanjut Kyuhyun kembali acuh kemudian sedikit mendorong Donghae dan berjalan kearah kamar mandi. Donghae hanya diam, tak bereaksi. Pasti mimpi itu lagi, batin Donghae. Mimpi yang selama empat tahun belakangan selalu mengganggu tidur sahabatnya itu, mimpi yang membuat sahabatnya itu memilih untuk tidak tidur daripada harus memimpikannya. Donghae tidak berani bertanya dan berkomentar, dia hanya menunggu sampai sahabatnya itu siap bercerita padanya.
To Be Continue…

Annyeong….. sebenernya part 1 dari fanfic ini mau aku publish minggu depan, tapiiii… berhubung minggu depan aku bakal sibuk sama UTS sama ospek lanjutan, jadi mending aku publish sekarang aja, kekekeee… mian ya posternya abal, kkeee.. ngedit seadanya aku soalnya,.. TT.TT
Klise banget sih ceritanya, kekekekeeee… inspirasinya juga muncul tiba-tiba soalnya ..hahahaaaggg… gomawo buat yang udah setia komen disetiap ff yang aku buat, yang belom pernah ayo komen dong!! KNIGHT sejati kan..?
Oke yang mau lebih kenal sama aku *gak ada kali… #promosi# bisa follow twitter aku di @tvilluajeng ,sekalian nambah tem sesama KNIGHT :)) .. sekian dan terima kasih… *tebar tawa evil sama KyuYoung…