postingan kedua dari aku … yeyey… baca trus COMMENT!!! check this out …
 THE CUTTER
 by. Tvillu Ajeng

Bandung, 13 Februari 2008
“Ditemukan siswi SMU meninggal dengan luka sayatan di pergelangan tangan kanan. Penyebabnya masih belum diketahui”
            Headline surat kabar tersebut menjadi pembicaraan di masyarakat luas dan menjadi misteri apa penyebab kematian itu??
****
Bandung, 14 Februari 2008
            “Saya Alexandra Putri, bisa kalian panggil Lexa. Saya pindahan dari Australia” kata Alexa memperkenalkan diri didepan teman-teman barunya di SMA Kirana Puspa. Disudut lain seorang siswa melihat kearahnya dengan seringai muncul disudut bibirnya.
            “Baik, Lexa. Kamu bisa duduk dibangku nomor tiga disana!” kata guru berkacamata dan berkumis tebal yang sedang mengajar dikelas XII-D saat ini. Seringai kembali muncul dari siswa tadi, dan lenyap seketika saat Lexa berjalan kearahnya dan berganti senymum ramah dan bersahabat.
****
Bandung, 16 Februari 2008
            “Lexa, hari ini kita pulang bersama ya?” ajak Reyhan, teman sekelas Lexa yang menyukainya.
            “Maaf, Rey. Aku dijemput kok” kata Lexa masih terus berjalan kearah gerbang sekolah. Reyhan hanya mendengus kecewa dan kemudian kembali tersenyum.
            “Kalau gitu aku tungguin sampai kamu dijemput ya?” tawar Reyhan sembil tersenyum.
            “Kalau tidak merepotkan tentu tidak masalah” jawab Lexa sambil tersenyum pada Reyhan.
            Beberapa menit setelahnya, terdengar teriakan keras didalam salah satu kelas. Reyhan dan Lexa spontan berlari kearah sumber teriakan itu. Didepan kelas XII-B seorang siswi ketakutan dan menunjuk kedalam kelas. Reyhan mengikuti arah tersebut dan tercengang saat dilihatnya seorang siswi terduduk dibangku paling depan dengan pergelangan tangan kanannya terdapat sayatan yang mengakibatkan darah segar bercucuran kelantai sedangkan tangan kirinya memegang sebuah cutter. Saat Reyhan memastikan keadaan siswi itu, dia hanya bisa menghela nafas kecewa. “Lex, tenangkan dia dan bawa keruang kesehatan. Aku akan menghubungi Polisi” kata Reyhan pada Lexa dan dijawab dengan anggukan oleh Lexa.
            Beberapa menit kemudian polisi telah tiba dan segera memasang garis polisi disekitar TKP.
****
Bandung, 17 Februari 2008
            Keesokan harinya peristiwa tewasnya lagi siswi SMU Kirana Puspa menjaditopik hangat di masyarakat. Sehingga banyak reporter yang yang ingin meliput berita di SMU yang cukup popular di Bandung ini.
            “Rey, aku ingin bicara denganmu!” kata Lexa pada Reyhan akan keluar kelas saat istirahat.
            “Bicara apa? Kau suka aku ya?” goda Reyhan. Lexa hanya mendengus sebal lalu berkata, “Aku serius, Reyhan!!”
            “Hehehe, maaf hanya bercanda. Ayo dikantin saja”  Reyhan berjalan didepan diikuti Lexa dibelakangnya.
            Saat tiba dikantin Lexa langsung memasang wajah serius dan berkata, “Aku merasa ngeri dengan kejadian kemarin. Apa kau mengetahui  tentang kejadian ini?”
            “Aku tahu sesuatu, 2 orang siswi meninggal dengan keadaan yang nyaris sama hanya berbeda kelas. Ini semua terlalu kebetulan bagiku” jawab Reyhan dengan wajah berfikir.
            “Kata Bunga, sahabat Lusi. Sebelum meninggal Lusi mendapat bingkisan di lokernya” Lexa sambil menyeruput jus alpukat didepannya.
            “Bingkisan?? Apa isi bingkisan itu?”
            “Sapu tangan dengan inisial ‘L’ di salah satu bagian sudutnya”
            “Inisial ‘L’? Siapa itu?” kata Reyhan berfikir, kemudian ingat sesuatu. “Tunggu! Bukankah korban pertama juga berinisial ‘L’? Lauren, kelas XII-A kemudian Lusi, kelas XII-B. ini semua saling berhubungan, Lex” kata Reyhan dengan semangat.
            “Dan setelah ini dari kelas XII-C, begitu??” tanya Lexa.
            “Aku tidak tahu. Tapi aku berharap tidak ada lagi korban selanjutnya” jawab Reyhan dengan bijak.
            “Aku harap juga begitu,Rey”
            “Semoga saja” jawab Reyhan sambil menatap Lexa.
****
            Malamnya, hujan deras dan petir yang menyambar menbuat suasana kota Bandung menjadi mencekam. Dan lagi belum tertangkapnya pelaku membunuhan di SMU Kirana Puspa.
            Reyhan berdiri didekat jendela kamarnya sambil memikirkan kejadian yang terjadi disekolahnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah jangka, benda pemberian dari sepupunya dari San Franssico.
            “Nick, seandainya kau ada disini dan menbantuku” kata Reyhan sambil menerawang di depan kaca jendelanya yang sudah berembun akibat derasnya hujan malam ini. Dan kembali menginggat memori sebulan yang lalu, saat tahun baru.
Bandung, 31 Desember 2007
            “Sudah lama kita tidak bertemu, Nick. Aku merindukanmu” kate Reyhan sambil memeluk Nickgy, sepupunya itu.
            “Hey… hormati aku!! Aku 5 tahun diatasmu” jawab Nickgy.
            “Hahaha.. baiklah-baiklah. Apa itu? oleh-oleh untukku??” kata Reyhan sambil merebut kotak persegi yang digenggam oleh Nickgy.
            “Itu adalah benda bersejarah bagiku. Kau tahu? Aku hampir mati karena benda itu” jawab Nickgy sambil duduk di sofa ruang tengah rumah Reyhan yang luas.
            “Benarkah? Lalu untuk apa kau tetap menyimpan benda yang hampir membunuhmu itu?”
            “Entahlah. Mungkin aku merasa benda ini spesial bagiku”
            “Kau aneh, Nick”
            “Aku rasa juga begitu. Tapi ini!” kata Nickgy menyerahkan benda miliknya pada Reyhan. “Ambilah, Rey! Semoga benda ini dapat membantumu dalam menyesaikan masalah yang kau hadapi” lanjutnya.
            Reyhan kembali tersadar, saat dering telepon genggamnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
            “Hallo??”
            “Rey, ini aku Lexa. Bisakah kau menjemputku besok?? Sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu besok.”
            “Baiklah, Lex. Apa sih yang tidak buat kamu. Hehehe..” jawab Reyhan sambil nyengir.
            “Huh. Thanks ya, Rey” jawab Lexa kemudian mengakhiri panggilannya.
            “Hey?? Kenapa langsung ditutup sih? Tidak sopan!!” kata Ryhan dengan wajah sebal kemudian beranjak  ke kasurnya.
****
Bandung, 20 Februari 2008
            “Ada perkembangan lagi tentang kejadian kemarin, Rey?” tanya Lexa saat ia dan Reyhan berada dikantin sore ini, sepulang sekolah.
            “Tidak. Lex. Ini semua sangat membingungkan untukku” jawab Reyhan dengan menghela nafas panjang tanda dia merasa putus asa.
            “Aku juga sudah me–“ ucapan Lexa terputus saat terdengan teriakan histeris dari dalam kelas XII-C. Reyhan dan Alexa tanpa pikir panjang lansung berlari kearah kelas XII-C yang letaknya memang dekat dengan kantin.
            Saat tiba disana, kelas XII-C telah dipenuhi siswa-siswi yang penasaran dengan teriakan tadi. Reyhan langsung menerobos masuk dan kaget begitu melihat keadaan siswi itu yang sama persis sama dengan dua korban sebelumnya. Selang beberapa menit terdengar sirine pmobil polisi dan mobil ambulance.
****
            Reyhan mengantarkan Lexa pulang karena dia merasa takut bila terjadi sesuatu pada Lexa. Lexa hanya diam saat dalam perjalanan pulang, Reyhan yang merasa anah bertanya,
            “Ada apa, Lex? Apa yang kau pikirkan?”
            “Aku takut. Rey. Kau tahu? Hanya aku dikelas kita yang memiliki inisial ‘L’. berarti akulah korban selanjutnya, Rey” kata Lexa dengan air mata yang sudah jatuh di pelupuk matanya. Reyhan begitu tercengang dengan perkataan Lexa, kemudian menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Lalu menatap Lexa,
            “Jangan berbicara yang tidak-tidak, Lex. Tidak ada korban lagi ini akan berakhir dan akulah yang akan menangkap pelaku pembunuhan ini”
            “Aku tidak yakin, Rey. Dia sangat berbahaya dan gila” kata Lexa sambil terisak.
            “Percayalah padaku, Lex. Aku akan menyelamatkanmu” kata Reyhan sambil menghapus air mata di wajah Lexa. Dan kembali melajukan mobilnya, saat Lexa sudah tenang.
****
Bandung, 23 Februari 2008
            “Baiklah, anak-anak. Pelajaran hari ini selesai sampai disini saja. Kita lanjutkan dipertemuan berikutnya” kata pak Imron, guru antropologi sambil berlalu dari ruang kelas XII-D, diikuti gerombolan siswa-siswi yang juga akan pulang. Ruang kelas kini hanya tinggal Lexa yang sibuk mencatat setelah sebelumnya Reyhan pamit ke toilet. Dan Roni seorang siswa yang terkenal pendiam didalam kelas yang juga sedang mencatat.
            Tiba-tiba Roni berdiri dan menutup pintu kelas dan menguncinya. Lexa merasa ada yang aneh dan bertanya,
            “Kenapa ditutup, Ron? Nanti Reyhan kan mau kesini?”
            “Aku tidak peduli! Aku berharap dia tidak kesini, Lexa’ kata Roni sambil menyeringai sinis menatap Lexa.
            “Ada apa denganmu, Ron? Kau terlihat aneh dan menakutkan” kata Lexa sambil mencoba untuk menghindar saat Roni berjalan kearahnya, namun terlambat. Kini tangan kanannya telah ditarik paksa oleh Roni dan dia didudukkan dengan paksa dibangku paling depan.
            “Alexandra Putri. Kau tahu? Akulah pelakunya. Akulah yang membunuh mereka bertiga. Kau ingin tahu apa alasanku melakukannya pada mereka, Lexa?”
            “K…kau sangat kejam, Ron. A…aku tidak menyangka kau yang melakukannya” jawab Lexa dengan air mata yang telahderah menutupi wajah cantiknya.
            “Karena aku ingin mereka merasakan yang Alisa rasakan. KAU TAHU??” Roni dengan berteriak. “Dia membunuh Lisa dengan ini, Lex” lanjutnya sambil menunjukkan sebuah cutter. “Dia adalah ayah kandungku sendiri, Lex. Ayah kandungku dan Lisa. Dia adalah panutan hidupku, tapi dia membunuh Alisa!” tangis Roni pecah dan dia bersimpuh didepan bangku tempat Lexa duduk.
            Lexa hanya terkejut, shock, dan tidak percaya dengan penuturan Roni itu. Hanya suara isakan tangis Roni yang kini terdengar, namun tiba-tiba Roni kembali berdiri dan berkata, “Dan kini kau yang akan merasakannya, Lex” kata Roni sambil menodongkan cutter itu dihadapan Lexa kemudian dialihkan ke pergelangan tangan kanan Lexa.
****
            “RONI !!! JANGAN !!!!!” teriakan Lexa terdengar hingga kantin sekolah yang sudah sepi. Reyhan yang mendengarnya, lansung berlari karena merasa ada yang tidak beres dengan teriakan tadi.
            Tiba didepan pintu kelas yang terkunci, Reyhan lansung mendobraknya dari luar.
            BRAKK !!!
            Pintu kini terbuka, didalam Lexa duduk di bangku paling depandengan menangis. Sedangkan Roni berdiri berhadapan dengan Lexa sambil tangan kanan memegangsebuah cutter dan tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanan Lexa. Reyhan berlari dan dengan cepat menahan Roni agar menjauh dari Lexa.
            “Kau gila, RON!!” teriak Reyhan. Dengan posisi membelakanginya Roni tidak bisa berkutik dan hanya tertawa.
            “Kau tidak waras, Ron. Kau GILA!!!!” emosi Reyhan meluap begitu saja. Bila dia tidak berfikir, mungkin dia akan menghajar Roni saat ini juga. “Lex, keluarlah dan cari pertolongan!! Aku akan menahan orang gila ini” kata Reyhan pada Lexa yang kini merasa lega karena Reyhan menyelamatkannya. Lexa hanya mengangguk dan segera berlari keuar unutk mencari pertolongan.
****
Bandung, 24 Februari 2008
            “Selamat pagi. Berita pertama hari ini datang dari Bandung, dimana pelaku pembunuhan berantai yang membunuh tiga orang siswi di SMU Kirana Puspa telah berhasil ditangkap. Pelaku ternyata menyidap penyakit gangguan jiwa sejak ber–“ ocehan pembawa berita itu seketika berhenti saat Reyhan mematikan tvnya dan tersenyum meraih benda pemberian sepupunya waktu itu.
            “Semuanya sudah berakhir. Aku dapat menyelesaikan ini semua karena ini. Kau benar, Nick. Benda ini yang membantuku menyelesaikan masalah disini” katanya sambil menatap jangka pemberian sepupunya kemudian beralih pada benda dimeja belajarnya, sebuah cutter. Lalu dia melanjutkan ucapannya,
            “Tapi aku rasa, sekarang benda inilah yang spesial. Karena ini hamper membunuh orang yang aku cintai” diraihnya cutter itu kemudian diletakkan kembali diatas meja bersama jangka pemberian Nickgy. Dan kemudian ia beranjak dari kamar dan bersiap untuk menjemput kekasihnya, Alexa.
****
            Namun tiba-tiba, jangka di meja belajar Reyhan bergerak dengan sendirinya membentuk lingkaran, lalu kemudian cutter disebelh jangka itu bergerak dan memotong kertas menjadi tiga bagian.
——TAMAT——